Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label komunikasi data. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi data. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2009

ASCII, EBCDIC dan paritas

EBCDIC
function baris = FIND_BARIS(diketahui, dicari)
%FIND_BARIS
%baris = FIND_BARIS(diketahui, dicari)
% fungsi ini akan :) mencari posisi baris dari data yang bersesuaian antara diketahui dan dicari
% :) mengembalikan informasi baris data yang dicari dalam matriks diketahui
% syarat :) jumlah kolom matriks_diketahui == jumlah kolom matriks_dicari
% :) jumlah baris matriks_dicari == 1
%
%Basit Adhi Prabowo - UAD Jogjakarta - 27052004

%misal :
%diketahui : - -
% | 0 1 1 |
% | 1 0 1 |
% | 1 0 1 |
% - -
%jika dicari data [1 0 1]
%maka hasilnya -> [2 3], karena [1 0 1] berada pada baris 2 dan 3
[bket, kket] = size(diketahui);
[bcr, kcr] = size(dicari);

baris = 0;
nbaris = 0;

if bcr == 1 & kket == kcr
for i=1:bket
if diketahui(i,:) == dicari(1,:)
nbaris = nbaris + 1;
baris(nbaris) = i;
end
end
else
error('Jumlah kolom matriks_diketahui == matriks_dicari atau baris matriks_dicari == 1')
end
if baris == 0
disp('0 berarti >> tidak ada data yang cocok')
end

Berbagai macam pengkodean sinyal

Program ini saya buat ketika sedang mengambil matakuliah Komunikasi Data.

Fungsi Umum
function GAMBARBALOK(sinyal, jumlahbarisgambar, jumlahkolomgambar, posisigambar, judul, pertambahanx)
%GAMBARBALOK
%GAMBARBALOK(sinyal, jumlahbarisgambar, jumlahkolomgambar, posisigambar, judul, pertambahanx)
% sinyal sebagai sumbu y
% pertambahanx sebagai interval pada sumbu x
% fungsi ini akan :) menampilkan diagram balok dari sinyal
% :) tidak mengembalikan nilai
%
%Basit Adhi Prabowo - UAD Jogjakarta - 19052004
%revisi 1 - 20052004 - Basit Adhi Prabowo
%revisi 2 - 21052004 - Basit Adhi Prabowo
%revisi 3 - 24052004 - Basit Adhi Prabowo

[baris, kolom] = size(sinyal); %mengetahui berapa jumlah kolom dan baris dari input
min = sinyal(1,1); %kondisi awal sinyal minimal adalah sinyal pertama
max = sinyal(1,1); %kondisi awal sinyal maksimal adalah sinyal pertama

% Kedua versi ini panjang karena dibuat untuk mengantisipasi sinyal berupa matriks 2 dimensi

% VERSI I
% Versi ini lebih pendek dari versi II karena untuk setiap sinyal memiliki dua koordinat x, yaitu
% x dan x+1, misal : [0 1 1 1 0]
% pertambahan sumbu x pada versi ini tetap, yaitu 1
% sumbu x 0 1 1 2 2 3 3 4 4 5
% sumbu y 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0

% penentuan sumbu x
% kedua = 0;
% for i=1:baris,
% for j=1:kolom,
% pertama = kedua + 1;
% kedua = pertama + 1;
% x(pertama) = (kedua / 2) - 1;
% x(kedua) = kedua / 2;
% y(pertama) = sinyal(i,j);
% y(kedua) = y(pertama);
% if sinyal(i,j) < min %pencarian nilai minimal
% min = sinyal(i,j);
% else if sinyal(i,j) > max %pencarian nilai maksimal
% max = sinyal(i,j);
% end
% end
% end
% end